Mari kita selami lebih dalam tentang berbagai aspek dari bunga Edelweiss, mulai dari karakteristik fisiknya, habitat alaminya, hingga arti yang melekat padanya.
Daftar Isi
Sekilas Tentang Edelweiss

Walaupun sama-sama disebut dengan Edelweiss, namun bunga Edelweiss yang kita kenal di Indonesia sebenarnya berbeda dari Edelweiss yang dikenal di Barat. Di Barat, terutama di Eropa, Edelweiss merujuk pada Leontopodium alpinum yang merupakan bunga yang berasal dari pegunungan Alpen dan sekitarnya.
Sementara itu, di Indonesia, bunga “edelweiss” sering kali merujuk pada bunga Edelweiss Jawa yang memiliki nama ilmiah Anaphalis javanica. Bunga-bunga dalam genus Anaphalis ini dalam bahasa Inggris biasa disebut sebagai “pearly everlasting”.
Anaphalis javanica dan Leontopodium alpinum memiliki beberapa kesamaan yang menyebabkan mereka disebut dengan nama serupa. Keduanya memiliki bunga putih yang indah dan tahan lama, serta tidak mudah rusak, bahkan setelah dipetik dan dikeringkan.
Ini adalah salah satu alasan mengapa Anaphalis javanica di Indonesia juga disebut Edelweiss, meskipun secara taksonomi mereka adalah spesies berbeda dari genus yang berbeda juga.
Sejarah
Bunga Edelweiss Jawa (Anaphalis javanica) pertama kali ditemukan di Indonesia pada awal abad ke-19. Bunga ini ditemukan oleh ahli botani Jerman yang juga pendiri dan pemimpin pertama Kebun Raya Bogor bernama Caspar Georg Carl Reinwardt, yang menjelajahi lereng Gunung Gede di Jawa pada tahun 1817.
Penelitian Reinwardt kemudian diteruskan oleh Carl Heinrich Schultz pada tahun 1819. Schultz, yang juga juga seorang ahli botani asal Jerman, melanjutkan kajian tentang tanaman ini dan membantu mengidentifikasi serta mendokumentasikan spesies tersebut lebih lanjut.
Karakteristik

Secara keseluruhan, tanaman ini memiliki bentuk yang tegak dan bisa tumbuh hingga sekitar 4 meter. Batangnya dan dahan bagian bawah cenderung gundul, sementara bagian atasnya ditutupi dengan ranting-ranting yang merunduk. Ranting ini memiliki daun yang tumbuh lebat, terutama di ujung-ujung dahan dan batang.
Bunga Edelweiss Jawa tersusun dalam bentuk majemuk yang rapat, membentuk bulir bercabang. Mahkota bunga berwarna putih kecokelatan dan memiliki ukuran antara 4 hingga 6 mm.
Daun tanaman ini berbentuk lanset dengan ujung yang lancip dan tepi yang rata. Warnanya kelabu kehijauan dan memiliki ukuran bervariasi, dari yang kecil sekitar 2 x 0,15 cm hingga yang lebih besar sekitar 6 x 0,6 cm. Daun-daun ini memiliki tekstur halus yang mirip beludru dan mengelilingi batang dengan rapat.
Seluruh bagian tanaman ini dirancang untuk bertahan dalam kondisi pegunungan yang dingin, beradaptasi dengan baik terhadap lingkungan yang keras di habitatnya.
Habitat
Edelweiss Jawa tumbuh pada ketinggian antara 2.000 hingga 3.600 meter di atas permukaan laut, di mana udara dingin dan kondisi pegunungan yang ekstrem mendukung pertumbuhannya. Tanaman ini dapat ditemukan di berbagai kawasan taman nasional, seperti Taman Nasional Gunung Merapi, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, dan beberapa taman nasional lainnya.
Baca Juga: Arti Dari Bunga Anyelir
Etimologi
Nama “Edelweiss” berasal dari bahasa Jerman, di mana kata “edelweiß” terdiri dari dua bagian: “edel” yang berarti “mulia” atau “agung”, dan “weiß” yang berarti “putih”. Jadi, secara harfiah, “edelweiss” bisa diartikan sebagai “putih yang mulia” atau “putih yang agung”.
Sementara itu, nama Inggris untuk Anaphalis javanica, “pearly everlasting”, yang secara harfiah bermakna “mutiara abadi” menggambarkan tampilan bunga yang berwarna putih dan kemampuannya untuk bertahan lama bahkan setelah dipetik.
Arti Bunga Edelweiss

Arti Bunga Edelweiss: Ketahanan; Keabadian; Keberanian; Pengorbanan; Kemuliaan; Cinta Sejati;
Ketahanan Dan Keabadian
Edelweiss dikenal karena kemampuannya bertahan hidup di kondisi cuaca ekstrem di dataran tinggi. Tanaman ini tumbuh di lingkungan yang keras, seperti pegunungan dengan suhu dingin dan angin kencang, namun tetap bisa berkembang dengan baik.
Selain itu, bunga Edelweiss juga memiliki sifat unik yang membuatnya tetap awet dan tidak mudah layu, bahkan setelah dipetik. Kemampuannya untuk bertahan dalam kondisi sulit serta keindahannya yang tidak mudah pudar membuat bunga Edelweiss dianggap sebagai simbol ketahanan dan keabadian.
Keberanian Dan Pengorbanan
Untuk bisa melihat atau memetik bunga ini, seseorang harus mendaki gunung dan menghadapi tantangan alam yang tidak mudah. Proses ini membutuhkan usaha, keberanian, dan sering kali pengorbanan, karena tidak semua orang mampu mencapai tempat-tempat di mana Edelweiss tumbuh. Oleh karena itu, bunga ini menjadi simbol pencapaian yang diperoleh melalui keberanian dan pengorbanan yang besar.
Kemuliaan
Bunga Edelweiss juga dianggap memiliki arti kemuliaan, sejalan dengan makna kata “edel” dalam bahasa Jerman yang berarti “mulia” atau “agung”. Nama ini tidak hanya mencerminkan keindahan fisik bunga tersebut, tetapi juga nilai-nilai yang dikaitkan dengannya.
Karena tumbuh di tempat-tempat yang sulit dijangkau, Edelweiss dianggap sebagai sesuatu yang istimewa dan bernilai tinggi. Kemuliaannya juga tercermin dari daya tahan dan keabadiannya, yang membuat bunga ini dipandang sebagai simbol kehormatan dan prestasi.
Cinta Sejati
Bunga Edelweiss juga sering dianggap melambangkan cinta sejati karena daya tahannya yang luar biasa. Bunga ini mampu bertahan lama tanpa mudah layu atau pudar, bahkan di lingkungan yang keras. Ketahanannya ini mencerminkan komitmen yang kuat dan ketulusan dalam sebuah hubungan. Oleh karena itu, Edelweiss sering dilihat sebagai simbol cinta sejati yang mampu bertahan dalam segala situasi dan tantangan.
Baca Juga: Bunga Cantik Yang Melambangkan Cinta Abadi
Larangan Memetik Edelweis
Bunga Edelweiss termasuk dalam kategori tanaman yang dilindungi, sehingga dilarang untuk dipetik. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan lingkup tumbuhnya dan banyaknya orang yang memetik bunga ini, yang menyebabkan tanaman tersebut menjadi langka.
Perlindungan terhadap Edelweiss diatur secara hukum melalui Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Hayati dan Ekosistem, khususnya dalam pasal 33 ayat (1) dan (2), yang melarang pengambilan tanaman yang dilindungi dari habitatnya tanpa izin.
Selain itu, Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.20/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018 juga mengatur tentang jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi, termasuk Edelweiss.
Menurut peraturan tersebut, siapa pun yang dengan sengaja memetik bunga Edelweiss bisa dikenai hukuman pidana sesuai dengan UU No. 5 Tahun 1990 Pasal 40 ayat 2, yang mencakup penjara hingga 10 tahun dan denda maksimal sebesar Rp 200 juta.
Larangan ini bertujuan untuk memastikan bahwa Edelweiss tetap dapat berkembang di alamnya dan tidak mengalami kepunahan akibat aktivitas manusia.
Penutup
Edelweiss, dengan segala keunikannya, membawa makna yang mendalam dan simbolis ketahanan, keberanian, kemuliaan, dan cinta sejati. Melalui pemahaman tentang makna dan simbolisme yang terkandung dalam bunga ini, kita akan bisa lebih menghargai keindahannya.
Semoga artikel ini memberikan wawasan yang bermanfaat dan memperkaya pengetahuan Anda tentang arti bunga Edelweiss.
Referensi
- Mandy Kirkby. A Victorian Flower Dictionary: The Language of Flowers Companion.
- Jessica Roux. Floriography.
- Jess Buttermore dan Lisa McGuinness. The Love Language of Flowers.
- Indonesia.go.id. “Merekah di Ketinggian Nusantara.” Diakses dari https://indonesia.go.id/ragam/keanekaragaman-hayati/kebudayaan/merekah-di-ketinggian-nusantara
- Wikipedia. “Anaphalis javanica.” Diakses dari https://en.wikipedia.org/wiki/Anaphalis_javanica
- Wikipedia. “Leontopodium nivale.” Diakses dari https://en.wikipedia.org/wiki/Leontopodium_nivale
- Wikipedia. “Caspar Georg Karl Reinwardt.” Diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Caspar_Georg_Karl_Reinwardt